Tidak Benar-Benar Ingin Sendiri


Tidak pernah benar-benar ingin sendiri, pernah dengar ungkapan itu? 

Ya, kurang lebih demikian yang sedang dirasakan Tami, gadis usia 17 tahun yang punya segudang rahasia, lebih tepatnya luka, yang tidak pernah ia bagi dengan siapapun, kecuali dirinya sendiri.

Tami punya alasan, kenapa ia jarang sekali bercerita tiap kali hatinya terluka.

Tami tidak punya keyakinan bercerita kecuali pada Tuhan, dan dirinya sendiri. Selain itu, Tami juga benci dianggap lemah. 

Mungkin ini sedikit keliru, karena pada hakikatnya tidak ada manusia yang benar-benar kuat, bukan? Kita semua dikuatkan, Tuhan.

Entah trauma apa yang pernah tami alami, sehingga ia sangat jarang bahkan hampir tidak pernah "curhat" ke siapapun.

Banyak dari masalah Tami yang akhirnya tenggelam dalam tangis di ujung malam, air mata yang tanpa sadar terus berlinang kala terlelap, atau berbagai opini yang meledak begitu saja dalam kepalanya karena tidak dikeluarkan.

Atau mungkinkah, Tami tidak punya seseorang untuk ia jadikan tempat berbagi cerita? Orang tua misalnya, teman, atau seseorang yang lainnya?

Tidak, tidak. Tami punya orang tua, juga teman. Lalu, kenapa Tami tidak membaginya dengan mereka? 

Itu tadi, ada ketakutan di hati Tami tentang respon balik yang akan ia terima. Katanya, daripada semakin kecewa dengan tanggapan mereka, ia memilih untuk menyimpannya sendiri saja.

Bukannya anti kritik dan nasihat, hanya saja, Tami ingin mempersempit kemungkinan untuk semakin jauh dengan lebih banyak orang lagi.

Di dalam hatinya, entah sudah seberapa banyak bagian yang membiru, bahkan berdarah. Tapi begitulah Tami, ia cukup handal merekatkan perban senyum untuk menutupi semuanya.

Ketika ada sekumpulan rasa yang hampir meledak dalam hatinya, bukan tak pernah terbesit dalam pikiran Tami untuk bercerita. Dengan siapa, bagaimana dialog penyampaiannya, itu semua terangkai otomatis sembari ia berusaha meredam ledakan emosinya.

Tapi lagi-lagi, bisa kalian ditebak? yes, ujung-ujungnya semua itu hanya sampai pada niatan saja, dan tidak Tami realisasikan secara nyata. Seolah dengan meletakan orang lain dalam hayalannya itu sudah cukup.

Miris, bukan?

Tami mungkin tidak pernah secara detail menceritakan masalah atau apa yang ia rasakan pada orang lain, tapi Tami lumayan sering meminta pendapat atau pandangan orang lain tentang satu hal, seperti mengajak mereka beropini. Dimana, entah itu berkaitan dengan masalahnya atau tidak, tak ada yang tahu.

Ada beberapa orang, tidak banyak, yang cukup pandai membaca raut wajah dan gelagat Tami ketika sedang tidak baik-baik saja. Kata mereka, Tami justru tidak pandai menyembunyikannya, tapi mereka paham, bahwa Tami bukan tipikal yang gampang bercerita. Cukup pengertian.

Tami tidak berbohong, pernah ada seseorang dari mereka yang menegurnya tentang hal itu. Tami tidak mengelak, dia membenarkan, tapi ya, sampai di situ saja.

Bukan sekali dua kali Tami berpikir untuk berani berbagi apa yang ia rasakan dengan orang lain. Namun, untuk memulainya saja sudah cukup berat, rasanya sungguh membuat lelah. Ia tidak mampu, jika bagi sebagian orang "curhat" adalah jalan keluar dan bisa meringankan perasaan, bagi Tami itu justru adalah beban.

Ia sering bertanya pada dirinya sendiri, apakah ini semua benar atau tidak? Perlukah ini diteruskan dan dipelihara? Atau ada yang perlu diperbaiki dari caranya mengolah emosi? Pemikiran Tami ini adalah bukti, bahwa ia tidak pernah benar-benar ingin sendiri.

Sayangnya, sampai hari ini pun, Tami belum menemukan jawabannya. Ia masih terus berkutat dengan ketakutan yang sama. Tami belum beranjak, ia masih ada di ujung sana, di sudut ruang kecil bernama diri sendiri. Belum mengijinkan siapapun masuk, bahkan sekedar mengetuk dan menawarkan peluk.

Komentar

Postingan Populer