Bait-Bait Ramadan #Day6
Untukku sebelum untukmu.
"Gajah di pelupuk mata tak nampak, semut di seberang laut tampak"
Pernah dengar peribahasa di atas? Setelah berusaha mencari makna dibaliknya, ternyata cukup banyak versi yang dikemukakan oleh orang-orang.
Tapi jika ditelaah lagi, ternyata semua merujuk pada satu makna, yaitu kesalahan orang lain, kekurangan orang lain seolah begitu jelas dan mudah kita tangkap, tapi kesalahan dan kekurangan diri sendiri kadang luput dari perhatian. Seolah begitu mudah bagi kita melihat kekurangan orang lain tanpa diminta, tapi kekurangan atau kesalahan diri kita sendiri tak pernah kita pedulikan, waw.
Alhamdulillah kalau semisal kesalahan/kekurangan orang lain yang tertangkap oleh kita kemudian bisa dijadikan bahan refleksi. Tapi masalahnya, bagaimana jika yang terjadi justru hal tersebut membuat kita jadi mudah sekali menghakimi? merasa lebih baik sampai-sampai lupa diri?
Begini, hanya karena kita tidak melakukan dosa yang sama dengan orang lain bukan berarti kita lebih baik darinya. Hanya karena dosa yang kita lakukan itu berbeda, bukan berarti kita jadi lebih baik dari orang lain.
Maka sesekali menurutku kita sebagai manusia perlu sekali untuk menampar diri sendiri. Dengan apa? Dengan pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dirasa tidak perlu diajukan, atau bahkan justru kita berikan pada orang lain. Padahal sebenarnya kita yang paling pantas menerima pertanyaan itu.
Kau mungkin tidak melakukan dosa yang kau lihat dilakukan orang-orang disekitarmu. Tapi dengan itu semua jadi membuatmu merasa lebih baik dari mereka. Ya, kau merasa lebih baik sebab kau tak mabuk-mabukan, kau merasa lebih baik sebab kau tak mencuri, kau merasa lebih baik sebab kau sholat lima waktu sementara mereka tidak.
Lihatlah, betapa hebatnya kau yang mampu melawan segala godaan hawa nafsu sehingga mampu menutup aurat, mendirikan shalat dan sunnah-sunnah lainnya.
Tapi pernahkah kau bertanya, mengapa itu semua tak bisa mencegahmu dari merasa lebih baik dari orang lain?
Mungkin perasaan itu tidak secara jelas terlintas dalam hati atau pikiran kita. Tapi aku yakin, kita sama-sama paham bagaimana perasaan itu sesekali melintas di dalam diri.
Kadang kita terlalu banyak bicara, sampai-sampai lupa bahwa kita juga perlu untuk mendengar. Kadang kita terlalu banyak menilai, sampai-sampai lupa bahwa kita juga perlu berbenah.
Kita terlalu sibuk menilai, memperhatikan sampai membandingkan apa yang diperbuat orang lain sampai-sampai lupa kalau diri kita juga masih punya banyak sekali PR.
Semoga hati kita tidak sekeras itu. Semoga momentum ramadan ini bisa membukakan mata dan hati kita atas perasaan-perasaan yang tidak semestinya. Semoga kita jadi lebih bijak menyikapi hal-hal yang terjadi di sekitar. Dan paling penting, semoga kita bisa menyisihkan lebih banyak waktu untuk menengok dan membersihkan "rumah" kita sendiri dari debu-debu yang tak nampak.
Komentar
Posting Komentar