Bait-Bait Ramadan #Day17
Bahkan di bulan ramadan sekalipun...
Sepertinya masa-masa membandingkan diri dengan orang lain itu tak akan ada habisnya. Dan sebenarnya tak ada zamannya. Karena sejatinya dalam setiap jenjang kehidupan kita akan selalu bertemu dengan hal-hal dan orang-orang yang lebih.
Waktu SD misalnya, apa sih yang buat kita jadi membandingkan diri dengan orang lain? Rangking kelas, variasi menu bekal harian, model kotak pensil?
Memasuki masa remaja, apa kira-kira? Model sepatu? Tas? Gawai?
Memasuki dunia perkuliahan, kita jadi mulai membandingkan diri kita dengan orang lain perihal laju proses yang ditempuh. Circle pertemanan, keluarga dan lain sebagainya.
Memasuki dunia selepas perkuliahan, kita masih dihadapkan pada kenyataan di mana teman-teman kita mungkin ada yang melanjutkan studi, ada yang langsung bekerja, ada yang menikah, ada yang berwirausaha. Belum lagi tempat mereka diterima "terlihat" begitu wah.
Sementara kamu merasa biasa-biasa saja, kamu merasa kamu tertinggal. Karena tempatmu mengabdi bukanlah sebuah instansi yang besar. Gajimu bahkan tidak seberapa.
Ketika beberapa dari mereka sudah keliling Indonesia, kamu justru kembali ke kampung halaman, menerima banyak sekali tuntutan yang berbalut pertanyaan.
Mimpi-mimpi yang kau genggam itu kini kau sembunyikan, kau kubur dalam-dalam sebab kenyataan seolah sama sekali tidak membantumu untuk mewujudkannya. Kemustahilan menyelimuti hari demi hari yang kau jalani.
Kemudian disitulah kamu jadi semakin merasa tidak beruntung. Kamu jadi semakin melihat dirimu jauh kebelakang. Menempatkannya pada posisi yang sama sekali tidak istimewa. Dan yang paling parah, kau melabelinya dengan predikat kegagalan, ketertinggalan, kepayahan.
Komentar
Posting Komentar