Sepakat

Allah tidak pernah salah menakar takdir.

Kita yang keliru

kita yang usahanya kurang

kita yang harus berbenah

"Dan bukankah kita tidak akan menerima kecuali apa yang kita usahakan?"

Ini bukan konsep menyalahkan diri, mengutuk perjuangan ataupun menyepelekan apa yang telah dilakukan. Tapi ini adalah momentum untuk menyadarkan hati dan diri kita sendiri.

Menurut kita mungkin usaha kemarin sudah maksimal, tapi kita juga yang paling tahu bahwa usaha kemarin bukan yg 100%, bukan yang paling maksimal. Kita tahu, kita bisa mengusahakan lebih dari itu. Tapi kita juga yang memilih untuk setengah-setengah.

Allah itu adil.

Kita yang kadang berharap melebihi ekspektasi 

"Menanam rumput tapi bermimpi memanen padi, bagaimana mungkin?"

Percayalah, mereka yang berhasil mencapai puncak gunung pasti memiliki lecet dikaki tangannya, merasakan pegal disekujur tubuhnya, menangis kelelahan lahir batinnya, terengah-engah napas dan tutur katanya.

Tapi ini bukan tentang pendakian semata.

Sungguh, "kenikmatan" tak akan bisa diraih dengan "kenikmatan" pula.

Seringnya kita hanya melihat hasil akhirnya saja, tapi begitu tahu seterjal dan securam apa jalan yg harus ditempuh, langkah kita pun mundur kian menjauh.

Kita cenderung memilih "aman" yang membuai ketimbang "lelah" yang membentuk dan menguatkan.

_Qodarullah🍂_

Mari belajar melihat kegagalan dengan kacamata yang berbeda.

"Sadari, Terima, dan Perbaiki." 

Jika kali ini aku gagal, berarti Allah ingin aku memperbaiki caraku berjuang. Berarti Allah ingin aku bersujud lebih lama. Berarti Allah ingin membentukku lebih kuat dan tak pantang menyerah. Berarti Allah menginginkan kebaikan untukku.

Sadari, terima, dan perbaiki kesalahan itu! Mau sampai kapan berlindung dibalik kepura-puraan?

Sepakat?

Komentar

Postingan Populer